
AFP/Getty Images
Para tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit di Brooklyn, New York, menanggapi apresiasi masyarakat kepada mereka.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kasus-kasus baru Covid-19 telah "melampaui puncak" seraya memprediksi beberapa negara bagian akan membuka wilayahnya bulan ini.
"Data menengarai bahwa secara nasional, kita telah melampaui puncak kasus-kasus baru," cetus Trump dalam jumpa pers di Gedung Putih.
"Mudah-mudahan itu akan terus berlanjut dan kita akan terus membuat kemajuan."
Trump mengatakan panduan pembukaan kembali wilayah akan diumumkan pada Kamis (16/04) setelah dirinya berbincang dengan para gubernur.
"Kita akan jadi anak-anak yang kembali, kita semua. Kita ingin mendapatkan negara kita lagi," cetusnya.
Ketika ditanya mengenai potensi bahaya membuka wilayah secara dini, Trump berkata: "Ada juga kematian yang terlibat saat terus ditutup."
Dia merujuk topik kesehatan mental, dengan menyebutkan nomor telpon pencegahan bunuh diri "meledak" saat roda ekonomi mandek.
AS mencatat hampir 635.000 kasus positif Covid-19 dengan lebih dari 28.000 orang meninggal dunia.
Menurut Trump, sebanyak 3,3 juta tes Covid-19 telah dilakukan dan tes antibodi akan tersedia dalam waktu dekat.
Perkembangan itu, katanya, "menempatkan kita dalam posisi yang kuat untuk memfinalisasi panduan pembukaan kembali negara-negara bagian."
Hak atas foto
Getty Images
Gubernur New York mengatakan orang-orang yang meninggal dunia di luar rumah sakit atau panti jompo mungkin luput dari penghitungan kematian akibat Covid-19.
Lonjakan kematian di Kota New York
Sementara itu, jumlah kematian di Kota New York akibat wabah virus corona tiba-tiba melonjak menjadi 10.367 orang dengan tambahan 3.778 jiwa.
Angka itu ditambahkan Departemen Kesehatan Kota New York setelah menghitung orang-orang yang meninggal dunia tanpa menjalani tes Covid-19, namun diduga terjangkit virus corona.
Jumlah tersebut menciptakan lonjakan kematian sebanyak 60%.
Dalam konteks tingkat kematian per kapita, Kota New York kini melampaui Italia—yang mencatat jumlah kematian tertinggi akibat Covid=19 di Eropa.
"Di balik setiap kematian, ada teman, anggota keluarga, orang tercinta. Kami kini fokus memastikan bahwa setiap warga New York yang meninggal akibat Covid-19 dihitung," ujar Komisioner Kesehatan Kota New York, Dr Oxiris Barbot.
Mengapa ini terjadi?
Gubernur Negara Bagian New York, Andrew Cuomo, mengatakan bahwa Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah mengubah panduan mengenai pencatatan kematian virus corona.
"Mereka ingin angka kematian, dan kategori lain yaitu kemungkinan kematian," kata Cuomo.
Penghitungan ini, menurutnya, akan ditangani dinas kesehatan setempat atau dokter forensik. Dia menambahkan, orang-orang yang meninggal dunia di luar rumah sakit atau panti jompo mungkin luput dari penghitungan sebelumnya.
Hak atas foto
Getty Images
Stasiun Grand Central di New York terlihat sepi pada jam sibuk.
Mark Levine, selaku Kepala Dewan Kesehatan Kota New York, berpendapat bahwa meskipun jumlah kematian telah disesuaikan, angka itu amat mungkin di bawah angka kematian sebenarnya.
"Ada tambahan 3.017 kematian di atas taraf normal bulan lalu, tidak diketahui kaitannya dengan covid," sebutnya di Twitter.
"Hanya ada satu penjelasan atas peningkatan ini: korban langsung dan tidak langsung dari pandemi," lanjutnya.
Bagaimana ini mempengaruhi angka kematian resmi?
Belum jelas. Cuomo mengatakan negara bagian pimpinannya akan bekerja sama dengan badan-badan lokal untuk merilis angka revisi "secepatnya".
Sejauh ini, data Universitas Johns Hopkis—yang dipakai sebagai patokan oleh banyak negara bagian dan media, termasuk BBC—belum mengubah jumlah kematian di New York dengan memasukkan angka kematian yang "mungkin" disebabkan Covid-19.
"Selain mencerminkan dampak tragis virus ini terhadap kota kami, data ini membantu kami menentukan besaran dan cakupan epidemi serta memandu kami dalam membuat kebijakan," kata Dr Barbot.
[ad_2]
Source link
EmoticonEmoticon