Showing posts with label Pesawat Angkut. Show all posts
Showing posts with label Pesawat Angkut. Show all posts

BPPT Berencana Beli Pesawat dari PT DI

December 31, 2019 Add Comment
01 Januari 2020


NC-212i buatan PTDI yang diincar BPPT (photo : ririiw)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berminat dan berencana untuk membeli pesawat terbang dari PT Dirgantara Indonesia (DI) melalui penandatanganan surat pernyataan minat. Pesawat itu secara khusus akan dibuat untuk membantu pelaksanaan hujan buatan.

"Sekarang ini sudah kita punya niat untuk diadakan pesawat pada tahun 2020-2021 itu untuk menyemai awan dengan garam supaya bisa melakukan percepatan hujan buatan," kata Kepala BPPT Hammam Riza di dalam acara Roll Out Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau Drone tipe Medium Altitude Long Endurance (MALE) di PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Senin (30/12).

Penandatanganan surat pernyataan minat itu dilakukan oleh Kepala BPPT dan Direktur utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro di PT Dirgantara Indonesia di Bandung pada Senin. BPPT mengalokasikan anggaran Rp 260 miliar untuk membeli pesawat NC212 itu.

Dia berharap kontrak akan segera ditandatangani pada 2020 sehingga proses pengadaan pesawat terbang khusus untuk misi hujan buatan dapat dilakukan pada 2020 hingga 2021.

BPPT sejak tahun 1993 telah mengoperasikan pesawat NC212 buatan PT Dirgantara Indonesia untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca mendatangkan hujan buatan. Sementara untuk melaksanakan misi hujan buatan, BPPT membutuhkan pesawat dengan konfigurasi hujan buatan (rain making).


NC-212 Thailand (photo : thalea)

Hammam mengatakan selama ini pergerakan BPPT terbatas untuk menyemai awan dalam upaya menciptakan hujan buatan karena hanya memiliki satu pesawat yang sudah beroperasi sejak 1993. Sementara, Thailand memiliki 20 pesawat untuk melakukan hujan buatan.

Untuk pengendalian kasus-kasus kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sebelumnya, BPPT banyak mengandalkan pesawat dari TNI Angkatan Udara dengan meminjam pesawat mereka. Untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca ke depan, BPPT akan menjajaki dan mengkaji pesawat terbang buatan PT DI yang sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca.

Direktur utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro mengatakan pesawat NC212 dapat mengangkut 3 ton sehingga bisa membawa banyak bahan yakni garam untuk proses penyemaian awan. "Kalau saya sebagai pembuat mudah-mudahan bisa kontrak bulan depan," ujarnya.

Dalam surat pernyataan minat itu, PT DI menyatakan sepakat melaksanakan pelaksanaan aspek teknis dan non teknis jenis pesawat terbang dengan konfigurasi hujan buatan.

(Republika)

N219 Sukses Uji Terbang dengan Satu Mesin

December 24, 2019 Add Comment
24 Desember 2019

Uji terbang pesawat N-219 Nurtanio dengan satu mesin (photo : PTDI)

Pesawat twin engine masih dapat mengudara dengan satu mesin apabila mesin lainnya mengalami kendala atau bahkan mati, dalam kondisi seperti ini, pilot harus segera melaporkan ke menara kontrol untuk meminta ijin pesawat untuk melakukan pendaratan darurat.

Ada banyak kejadian sehingga salah satu mesin pesawat mati, mulai dari masalah teknis pompa bahan bakar, kehabisan bahan bakar, mesin kemasukan benda asing hingga yang paling sial adalah mesin ditabrak burung (bird strike).

Untuk alasan keselamatan seperti itulah, maka pesawat penumpang twin engine diwajibkan menempuh tahapan sertifikasi dengan menjalani uji terbang dengan satu mesin dimatikan.

Pada tanggal 18 Desember 2019 yang baru lalu, di bandara Kalijati, Majalengka, Jawa Barat dilakukan pengujian pesawat N-219 Nurtanio ini dengan mematikan salah satu mesinnya. Proses pengujian dengan satu mesin ini berlangsung sejak take off, terbang 15 menit hingga mendarat lagi, hal ini diulang sekali lagi sebagaimana yang disampaikan oleh Yustinus Kuswardana, Kepala Divisi Pusat Uji Terbang PT Dirgantara Indonesia kepada Indomiliter.

Tampak satu mesin kiri pesawat N-219 dimatikan saat uji terbang (photo : PTDI)

Pesawat N-219 yang menggunakan 2 mesin turboprop Pratt & Whitney PT6A-42 dengan kemampuan tiap mesin 850 shp (630 kW) yang masing-masing dilengkapi dengan 4 bilah baling-baling Hartzell Propeller ini pada pengujian terbang dengan satu mesin tetap dapat melaju dengan stabil.

Sebelumnya, uji coba terbang dengan satu mesin pada pesawat N-219 Nurtanio ini telah dilakukan beberapa jam, semuanya dilakukan untuk mendapatkan sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DGCA - Directorate General of Civil Aviation) dan European Aviation Safety Agency (EASA).

Dalam sertifikasi FAA (Federal Aviation Association) juga dikenal sertifikasi ETOPS (Extended Operations) dimana pesawat hanya diperbolehkan terbang selama beberapa saat - misalnya 75 menit dalam kondisi salah satu mesinnya mati. Dalam kurun waktu tersebut, pilot harus mendapatkan ijin dari menara kontrol untuk melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat. Kondisi seperti inilah yang disebut sertifikasi ETOPS 75. ETOPS sendiri dimulai dari ETOPS 75, 90, 120 dan seterusnya hingga maksimal 370.

Kita harapkan sertifikasi pesawat N-219 Nurtanio ini segera tuntas sehingga pesawat segera dapat diproduksi massal dan diserahterimakan kepada para pemesannya.

(Defense Studies)

Aceh Beli 4 Unit Pesawat N219 Buatan PTDI Senilai Rp 336 Miliar

December 10, 2019 Add Comment
10 Desember 2109

Pesawat N219 Nurtanio (photo : Merdeka)

TEMPO.CO, Bandung - Pelaksana Tugas (PLT) Gubernur Aceh Nova Iriansyah menandatangani naskah kesepahaman tentang rencana pembelian 4 unit pesawat N219  dengan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Elfien Goentoro, hari ini, Senin, 9 Desember 2019. “Nota kesepahaman ini akan segera beralih menjadi kontrak. Dari empat pesawat itu, satu akan dikirimkan pada 2021, dan tiga pada 2022,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Elfien Goentoro, di Bandung, Senin, 9 Desember 2019.

Elfien mengatakan, pesawat perintis N219 yang dinamai Presiden Joko Widodo dengan nama Nurtanio itu ditargetkan akan memperoleh Type Certificatae (TC) dari Kementerian Perhubungan akhir tahun ini. Selepas mengantungi sertifikasi itu, pesawat N219 akan mulai memasuki fase produksi. “Mudah-mudahan tidak menggeser,” kata dia.

Elfien mengatakan, naskah kesepahaman yang akan menjadi bahan kontrak tersebut tidak melulu berisi soal pembelian pesawat N219. “Yang diharapkan dari pemerintah Aceh yaitu adanya pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan dari pengoperasian pesawat itu sendiri. Jadi ini merupakan bagian dari kontrak yang tidak terpisahkan, yang akan segera kita realisasikan,” kata dia.

Elfien mengatakan, rencananya di tahap pertama PTDI akan menyiapkan kapasitas produksi untuk 6 unit pesawat N1219 di tahun pertama, sebelum kapasitasnya dinaikkan bertahap. “Kami punya fasilitas yang eksisting bisa 6 (unit). Jadi nanti sedang direncanakan untuk membangun fasilitas yang bisa (produksi) 36 pesawat per tahun,” kata dia.

Pesawat N219 Nurtanio (photo : Roby Cahyadi)


Dia mengaku, Aceh tidak hanya membeli 4 unit pesawat N219 untuk membangun konektivitas udara, tapi juga 3 unit kapal RoRo untuk membangun konektivitas pelayaran antar pulau. “Tahun ini 3 kapal penyeberangan RoRo kita pesan, dari Bangkalan dan Tanjung Balai Karimun, dengan Anggaran Pendapatan dan Belanca Aceh, atau APBA. Insya Allah itu multiyears, kontrak 2 tahun. Bulan April 2020 nanti sudah kita terima,” kata Nova.

Nova mengatakan, pesawat N219 pertama yang akan diterima Aceh itu akan digunakan sebagai Ambulan Terbang. “Kita di Aceh menjamin kesehatan masyarakat, bahkan di pelosok-pelosok. Kemarin-kemarin kita harus rental pesawat,” kata dia.

Pesawat itu juga akan dimanfaatkan untuk mengawasi wilayah Aceh untuk mencegah perambahan hutan. “Banyak pencurian kekayaan alam kita terjadi di laut, dan ilegal loging karena garis pantai begitu panjang, wilayah yang begitu luas,” kata Nova.

Nova mengatakan, Aceh juga menimbang untuk membangun layanan transportasi pesawat komersial bagi warganya untuk mendukung  konektivitas dengan keberadaan 7 bandara yang tersebar di seluruh wilayahnya. “Pesawat perintis paling pas untuk kondisi geografi dan alam daerah itu N219,” kata dia.

(Tempo)