Showing posts with label UAV. Show all posts
Showing posts with label UAV. Show all posts

RMAF Seeking Drones, Aircraft and Radars

January 05, 2020 Add Comment
06 Desember 2019


One of canditates for MPA is Leonardo ATR 72 (photo : Italian Navy)

KUALA LUMPUR: The Royal Malaysian Air Force (RMAF) is diligently pursuing the acquisition of three major assets to bolster its maritime surveillance capabilities.

Newly-appointed RMAF chief General Datuk Seri Ackbal Abdul Samad said the assets comprised unmanned aircraft systems, maritime patrol aircraft (MPA) and ground-based radars.

“These are vital elements to shore up the air force which needs such requirements to meet the challenges ahead.

“We are in the process of procuring the assets in due course under our ‘Capability Development 2055’ or ‘CAP 55’ programme (transformation plan on new procurement, enhancement and upgrading of assets by the year 2055),” he said in his maiden media briefing as the 19th RMAF chief at the RMAF Subang base near here.

Ackbal, who turns 58 on Sept 4, succeeded General Tan Sri Affendi Buang, who was appointed the new armed forces chief on Thursday.


One of canditates for MALE UAV is General Atomic MQ-9B Sea Guardian (photo : Force India)

The RMAF was reportedly seeking up to four MPAs, six medium-altitude long-endurance (MALE) unmanned aerial vehicles (UAV) and several ground-based radars.

Among the MPAs the RMAF was believed to be considering were France’s Airbus C-295, the ATR 72 from Italy’s Leonardo, the United States’ Boeing P-8A Poseidon, Japan’s Kawasaki P-1 and CN-235 from Indonesian Aerospace.

The MALE UAV contenders appeared to be from China’s Wing Loong II from AVIC, the US’ General Atomics MQ-9 Guardian, Turkish Aerospace’s Anka and Falco from Leonardo.

It was also reported that the US would be furnishing Malaysia with 12 ScanEagle drones by 2022 through a maritime security initiative to boost the country’s reconnaissance and surveillance capabilities.

It is learnt that the RMAF was also trying to procure Light Combat Aircraft (LCA), multi-role combat aircraft and ground-based missiles to replace its ageing assets.


One of canditates for ground-based radar is Lockheed Martin AN/TPS77 (photo : radar tutorial)

These would ensure it stays relevant by shaping its war-fighting capabilities to deter and contain threats.

Earlier, Affendi took the salute as the outgoing RMAF chief during a parade in his honour.

He later presented Ackbal, who was previously RMAF deputy chief, with the rank of lieutenant-general, his promotional “four-star” rank and the baton of command.

Affendi said the appointment of Ackbal and the impending appointment of RMAF education and training commander Lieutenant-General Datuk Mohd Asghar Khan Goriman Khan were most appropriate for the country’s air force, given their experience and service records.

Affendi, along with Ackbal and Asghar, are trained jet fighter pilots.

(NST)

Black Eagle Ditarget Memiliki Komponen Lokal 60%

December 31, 2019 Add Comment
01 Januari 2020


Black Eagle ketika belum dilakukan pengecatan (photo : Putut Reza)

Drone Mata-Mata Made in RI 60% Komponen Masih Impor

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia terus meningkatkan kemampuan membuat drone untuk keperluan pertahanan dan keamanan mulai dari urusan mata-mata hingga kombatan atau pertempuran. Pada Senin (30/12) drone bertipe Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang bernama 'Black Eagle' atau Elang Hitam memasuki tahap roll out atau keluar hanggar di PT DI, Bandung.

Drone prototipe pertama ini merupakan hasil produksi konsorsium yang terdiri dari BPPT, Kemenhan, TNI AU, PT DI, PT Len, dan ITB. Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Wahyu Widodo Pandoe mengatakan tak semua komponen drone MALE dibuat di dalam negeri.

"Komponen lokal 40%, target kita harus di atas 60%," kata Wahyu kepada CNBC Indonesia, Senin (30/12).


Spanyol dan Turki

Ia mengatakan beberapa komponen drone MALE yang masih harus diimpor adalah flight control system, weapon system dan lainnya.

"Flight control system dari Spanyol, untuk selanjutnya akan dibuat oleh PT Len, kalau komponen body pesawat 100% di dalam negeri, yang belum weapon system kerja sama dengan pihak luar. Kita penjajakan kerja sama dengan Turki," katanya

Drone MALE ini mampu terbang selama 24 jam dan mencapai ketinggian 30.000 kaki, drone ini membawa kamera dan radar. Pesawat ini untuk pengawasan perbatasan yang difungsikan untuk pertahanan dan keamanan wilayah.

BPPT juga sempat mengembangkan drone tipe Alap-Alap PA-06D lebih kecil dengan bentang sayap 3,2 m, berat maksimum saat takeoff (payload) 31 kg, lama terbang hanya 5 jam.

Selain itu, ada drone Wulung mampu terbang dari pusat take off hanya radius 100-120 kilometer (km), dan mampu terbang hanya selama 4 jam non stop. Wulung mampu terbang dengan ketinggian 8.000 kaki.

MALE UAV "Elang Hitam" Dilakukan Roll Out

December 29, 2019 Add Comment
30 Desember 2019

MALE UAV ini diberi nama "Elang Hitam" (Black Eagle) (photo : Antara)

2020 terbang perdana, PTDI kenalkan pesawat nirawak penangkal ancaman teritorial

Bandung, (ANTARA) - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengenalkan model Pesawat Udara Nir Awak jenis Medium Altitude Long Endurance (PUNA MALE) untuk menangkal ancaman teritorial seperti penyelundupan, pembajakan, terorisme, serta pencurian sumber daya alam.

Direktur Utama PTDI Elfien Goentoropada Senin mengatakan PUNA MALE merupakan pesawat efisien yang sangat diperlukan untuk mendukung upaya menjaga kedaulatan NKRI dari udara.

"Tahun depan targetnya bisa terbang perdana. Sekarang masih development manufacturing," kata Elfien di Hangar Rotary Wing PTDI, Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

Elang Hitam mampu terbang selama 24-30 jam dengan ketinggian terbang 3.000 hingga 6.000 meter (photo : Antara)


Ia menjelaskan, pesawat itu hanya membutuhkan landasan sepanjang sekitar 700 meter untuk lepas landas maupun mendarat serta mampu terbang hingga setinggi 20 ribu kaki dengan kecepatan maksimum 235 kilometer per jam.

"Pesawat ini dirancang untuk mampu terbang selama 30 jam di udara. Untuk sertifikasinya kita targetkan tahun 2024. Nanti dilengkapi dengan rudal," kata dia.

Elfien mengatakan bahwa pada tahun 2020 akan dibuat dua lagi prototipe pesawat nirawak itu, masing-masing untuk uji terbang dan uji kekuatan struktur di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Elang Hitam merupakan UAV hasil kerja 7 instansi : PT Len, PTDI, ITB, LAPAN, BPPT, TNI AU, dan Kementerian Pertahanan (photo : Tribunnews)

Pada tahun yang sama, proses sertifikasi produk militer juga akan dimulai. Pesawat nirawak itu diharapkan pada akhir tahun 2021 sudah mendapatkan sertifikat tipe dari Pusat Kelaikan Kementerian Pertahanan RI.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan pesawat PUNA MALE juga akan disiapkan untuk mendukung pengawasan hutan dan lahan.

"Karhutla itu setiap tahun terjadi, itu butuh pengawasan yang terus terhadap awan, terhadap cuaca, terhadap titik panas, terhadap tinggi muka air dari lahan gambut," kata Hammam.

Varian militer UAV MALE ini akan dilengkapi dengan rudal (graphic : istimewa)

Ia menjelaskan, teknologi sintetik aparatur radar yang akan dipasang di PUNA MALE memungkinkan pemeriksaan kandungan air hingga menembus 30 cm di bawah permukaan tanah.

"Jadi kita bisa mengukur seberapa banyak air yang dikandung. Sebelum tanah itu kering, kita bisa sirami itu, sehingga tidak muncul kebakaran hutan dan hotspot (titik panas)," kata dia.

Havelsan, Baynar Makina dan Aselsan Dapatkan 3 Kesepakatan di Malaysia

December 22, 2019 Add Comment
23 Desember 2019


Salah satu produk Baynar Makina adalah UCAV Bayraktar (photo : ssb)

Mahathir, Erdogan adakan perbincangan dua hala di Putrajaya

Perdana Menteri, Dr Mahathir Mohamad, mengadakan pertemuan dua hala dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan di Perdana Putra, Putrajaya hari ini.

Perbincangan selama kira-kira 45 minit antara kedua-dua pemimpin negara itu diadakan di luar Sidang Kemuncak Kuala Lumpur 2019.

Selepas pertemuan itu, Dr Mahathir dan Erdogan turut menyaksikan pertukaran beberapa dokumen perjanjian antara kedua-dua kerajaan dan perniagaan kedua-dua negara dalam pelbagai bidang.

Perjanjian tersebut, antara lain, merangkumi kerjasama dua hala dalam bidang sains dan teknologi.

Malaysia diwakili Menteri Tenaga, Sains, Teknologi, Alam Sekitar dan Perubahan Iklim, Yeo Bee Yin, manakala Turki oleh Menteri Industri dan Teknologi, Mustafa Varank.

Pasa majlis tersebut, sejumlah 13 pertukaran dokumen perjanjian antara entiti perniagaan kedua-dua negara itu dalam bidang pertahanan turut berlangsung.

Antara lain ialah memorandum perjanjian (MOA) antara Sapura Secured Technologies Sdn Bhd dan Aselsan Electronic mengenai domain komunikasi ketenteraan dan memorandum persefahaman (MOU) antara Havelsan Hava Electronic dan AMP Corporation Sdn Bhd mengenai Radar Pengawas Pantai.


Havelsan coastal radar (photo : Hurriyet)

Selain itu, pertukaran dokumen juga melibatkan MOU antara Tijan Galaxy Aerospace Consortium Sdn Bhd dan Baynar Makina mengenai kerjasama, rakan perkongsian, perkongsian ilmu dan pertukaran teknologi berhubung pesawat tanpa pemandu (UAV) dan perkhidmatan.

Presiden Turki itu tiba di negara ini pada tengah hari tadi bagi menghadiri Sidang Kemuncak Kuala Lumpur 2019 yang bertujuan menangani isu-isu berkaitan ummah dan negara Islam.

Erdogan akan menyertai Dr Mahathir - selaku pengerusi sidang kemuncak itu - dan beberapa pemimpin negara Islam pada sidang tersebut di ibu negara bermula hari ini hingga Sabtu ini.

Sidang Kemuncak Kuala Lumpur antara lain​​​​​​​ bertujuan membincangkan dan mencari jalan penyelesaian baharu serta yang boleh digunakan untuk masalah yang menimpa dunia Islam, dan menyumbang ke arah memperbaiki keadaan umat Islam dan negara-negara Islam.

Ia juga bertujuan untuk membentuk jaringan antara pemimpin Islam, cendekiawan, ulama dan pemikir di seluruh dunia, serta menghidupkan semula tamadun Islam.

(MalaysiaKini)

Ganti Mesin, Drone Alap-alap Diuji Coba Lagi

December 18, 2019 Add Comment
19 Desember 2019


Drone Alap-alap rancangan BPPT (photo BPPT)

Kelar Pengujian Hari Ini, Drone Alap-Alap Karya Anak Bangsa Siap Memperkuat Satuan TNI

Angkasa.news – Nama drone alias PUNA (Pesawat Udara Nir Awak) Alap-Alap tentu tidak asing lagi bagi kita semua. Karena jika patokannya umur, Alap-Alap udah cukup matang sejak Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperkenalkannya 10 tahun lalu dari hasil riset.

Dengan komitmen menjadikan produk teknologi sebagai tuan rumah di negeri sendiri, BPPT terus menyempurnakan Alap-Alap lewat kerja sama dengan industri swasta nasional.

Hari ini, Sabtu (14/12), BPPT dan PT Andhu Adha Perkasa Techmil (AAPT) sebagai mitra, kembali menggelar serangkaian pengujian Alap-Alap PA-06D di kawasan Pangandaran dan Bandara Nusawiru, Jawa Barat.

PUNA Alap-Alap adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot atau mampu mengendalikan dirinya sendiri, menggunakan hukum aerodinamika untuk mengangkat dirinya, bisa digunakan kembali dan mampu membawa muatan baik senjata maupun muatan lainnya.


Drone Alap-Alap milik BPPT yang diproduksi swasta nasional PT Andhu Adha Perkasa Techmil (AAPT) (photo : angkasa.news)

Pengujian yang dilaksanakan hari ini adalah Review Certification Document, Conformity Check serta Certification Flight Test hasil modifikasi PUNA Alap-Alap PA-06D.

Pengujian dilakukan terkait perubahan tipe mesin Alap-Alap yang sebelumnya memiliki kapasitas 5HP menjadi 3HP untuk mendapatkan target durasi terbang dari 5 jam menjadi 6 jam. 

Untuk menerbangkannya, Alap-Alap dilontarkan menggunakan katapel dan ditangkap menggunakan jaring saat pendaratan. Dalam pengujian hari ini, Alap-Alap terlihat membawa kamera Sony a6000.


Saat ini Alap-Alap menggunakan mesin Zenoah G620PU-1 dengan daya 5HP. Selain juga bisa menggunakan mesin Northmewst NW-44 Multi-fuel engine.

Sebagai tools untuk menyasar pasar dalam negeri seperti TNI, Polri, Kementerian, dan BNPB, Alap-Alap sudah mengantongi sertifikat IMMA (Indonesian Military Airworthiness Authority).

Sertifikasi drone ini diajukan BPPT kepada Pusat Kelaikan (Puslaik) Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan dan mendapat persetujuan pada 7 Desember 2018.


Kru darat menyiapkan drone Alap-Alap dalam pengujian siang ini di Nusawiru (photo : angkasa.news)

Sertifikat yang dikeluarkan Baranahan Kemhan adalah Sertifikat Kelaikudaraan Militer dan Sertifikat Pesawat Udara Nir Awak (PUNA).

Sertifikat IMMA menjadi lampu hijau bagi BPPT untuk menawarkan drone buatan anak bangsa ini kepada militer Indonesia.

Menurut informasi yang angkasa.news terima dari lapangan, sertifikat IMMA yang diperoleh diberikan kepada BPPT selaku badan yang melakukan riset. Sedangkan AAPT bertanggung jawab dalam melaksanakan tahap produksi.

Bagi TNI, drone ini selain bisa digunakan untuk mapping atau pemetaan juga sangat efektif digunakan dalam misi surveillance atau pertahanan.

Hingga saat ini kemampuan Alap-Alap sudah teruji saat dikerahkan dalam kontijensi nasional.

Drone ini melakukan pemetaan udara saat terjadi bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat(NTB). Alap-Alap juga yang membantu para ahli saat pemetaan jalur kereta api cepat Jakarta-Surabaya Segmen Cirebon-Brebes (Juli 2017).



Sebelum mendapat sertifikat, Alap-Alap menjalani uji misi dalam pemetaan Gunung Halimun pada Agustus 2017 hasil kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ketika itu, Alap-Alap terbang di ketinggian 7.000 kaki.


Alap-Alap juga diturunkan untuk memetakan Gunung Anak Krakatau. Dalam misi ini, drone diterbangkan dari dermaga Indah Kiat di Cilegon. Termasuk pemetaan beberapa pulau lainnya di Wilayah Kepulauan Seribu.

Dalam misi pemetaan, drone Alap-Alap Lebih mampu memetakan area seluas 1.700 ha per jam atau satu kali terbang yaitu lima jam operasi pemetaan.

Dikutip bpp.go.id disebutkan, drone ini dapat memetakan lahan seluas lebih dari 8.500 ha pada ketinggian 1.500 kaki.


Dengan semua hasil pengujian yang sudah dikantongi ditambah sertifikat dari Kementerian Pertahanan, drone Alap-Alap tinggal menunggu jawaban dari pemerintah untuk komitmen mengadopsi alat dan peralatan pertahanan buatan dalam negeri bagi keperluan TNI.

(Angkasa.News)

Menristek Lakukan Kunjungan ke PT DI Bahas UAV

December 13, 2019 Add Comment
13 Desember 2019


MALE UAV di PT DI (all photos : PT DI)

Menteri Riset dan Teknologi RI, Bapak Bambang Brodjonegoro melakukan kunjungan ke PTDI, diterima oleh seluruh Direksi PTDI.



Dalam kesempatannya, beliau berdikusi terkait pengembangan UAV pesawat tanpa awak dan pesawat N219, dilanjut dengan kunjungan ke fasilitas produksi PTDI.



Diharapkan kedepannya Indonesia dapat semakin memperkuat Industri Pertahanan dalam negeri dan mampu bersaing di pasar global dan tentunya akan menyumbangkan devisa ke negara untuk terus membangun bangsa dan mensejahterakan masyarakat.

(PT DI)